Pertemuan itu sebagai lanjutan tentang rencana ke Dieng dan sekitarnya.
Namun ada pasien perempuan yang datang diantar ibunya.
Tubuhnya kecil, keadaannya pucat dan rambut yang tak berantakan, memakai Tshirt ketat dengan wudel yang kadang mengintip dan celana legging yang ketat menambah kesan bahwa anak tersebut seperti kaca yang mudah pecah.
" Kenapa sayang ?" Sapa gw sambil mempersilahkan mereka duduk, namun si pasien tetap berdiri sesekali wajahnya memperlihatkan rasa sakit.
Ibunya beringsut mendekat, terdengar hembusan nafas berat.
" Anu bu... anak saya sudah 4 hari ini panas, kadang kesakitan sampai menangis ".
Jawab ibunya.
" Sudah berobat kemana saja?"
" Diklinik yang dekat rumah, di Bidan yang sana "
" Katanya apa ?"
" Lambung... asam lambung ".
" Masih ada obatnya ?"
" Saya buang, abis anak saya langsung muntah2 bau obatnya ".
Gw lirik sipasien, dia paham kalau gw memperhatikan wajahnya langsung bersembunyi dibelakang tubuh ibunya.
" Ibu periksa dulu ya sayang, mau liat panas badan kamu dari mana , takutnya ada infeksi ".
Si pasien menengadah memandang ibunya,berharap perlindungan, ibunya mengelus tangan anaknya.
" Gak apa apa, cuma dilihat aja, gak diapain apain,"
Si pasien berdiri dan melangkah menghampiri velbed sambil menarik tangan ibunya.
Setelah meresahkan tubuhnya , gw mulai memeriksa tekanan darah, Nadi dan suhu.
Kemudian meraba bagian belakang telinga, leher, ketiak dan pangkal pahanya, lalu menekan sedikit didaerah lambung , perut bagian kanan dan kiri, tubuh bagian belakang terutama di sekitar tulang belikat dan pinggangnya.
Kemudian memeriksa mata, hidung, rongga mulut dan telinga.
" Namamu siapa ?"
" Sabrina ".( bukan nama sebenarnya)
" Umurmu ?"
" 14 tahun ".
" sekolah ?"
" 2 SMP ".
" Punya pacar ?". Dia mengangguk.
" Sudah berapa lama kamu gak makan teratur ?"
" Tadinya dia makannya banyak bu, seminggu ini tiba-tiba langsung gak mau makan ". Ibunya yang menjawab.
Gw mengelus tangan Sabrina.
" Ibu mau periksa kemaluan kamu ya?" Sabrina langsung kaget.
" Karena Ibu meraba pembengkakan di sekitar pangkal paha kamu, takutnya ada infeksi ".
Dia diam sebentar, ibunya mendekat
" Gak usah malu, Ibu ini udah biasa liat begituan, dan biar kamu cepet sembuh ".
Perintah ibunya, Sabrina dengan takut menurunkan celana legging dan celana dalamnya.
Gw pasang penyangga kaki kiri dan kanan, lampu dan sarung tangan.
Hampir aja gw muntah, karena baunya bener2 bikin menusuk syaraf otak gw ketika Sabrina menaikkan kaki di penyangga.
Terlihat jaringan yang sudah membusuk didalam vagina dan tak terlihat selaput daranya.
Lalu dengan sangat hati hati gw tarik dengan dua jari gw jaringan tersebut, lebih mengejutkan jari gw menarik sesuatu yang bukan jaringan, setelah keluar gw chek ternyata sobekan celana.
" Sayang... siapa yang masukkan ini ?" Kata gw sambil mengangkat sobekan celana dalam.
Ibunya terkejut, wajahnya memerah, gw memberi kode untuk diam.
" Ibu duduk dulu disana ya ?"
Perintah gw sambil menunjuk kursi.
Gw ulangi pertanyaan gw.
" Waktu itu keluar darah terus, sempet pingsan terus sama priyo( bukan nama sebenarnya)disumpelin, katanya biar gak keluar darah.
" Priyo itu pacar kamu ?" Dia mengangguk.
" Temen sekolah ?" Dia menggeleng.
" Dia sekolah tapi aku gak tau nama sekolahnya,seragamnya bagus ".
Gw tarik kembali jaringan yang tersisa, semua sudah membusuk, tak ada darah hanya cairan nanah yang keluar.
Gw raba mulut rahimnya, menutup dan gw gak bs mengambil tindakan lebih lanjut.
Gw bersihkan vagina bagian dalam dengan bethadine sampai benar2 bersih lalu gw taruh tampon untuk mengecek apakah masih ada nanah dari dalam rahim.
"Tunggu 30 menit ya ... nanti saya periksa lagi seperti ini ?"
Gw turunkan kakinya, lalu membiarkan kakinya lurus, lalu gw tutup dg selimut tipis.
Wajahnya masih pucat, hanya tak terlihat kesakitan.
" Kapan terakhir kamu menstruasi ?"
Siibu mendekat.
" Kenapa anak saya bu ?". Tanya siibu.
" Ini baru saya mau nanya sama anak ibu ".
Jawab gw.
" Kapan terakhir menstruasi ... haid?".
" Seminggu yang lalu saya menstruasi bu ".
" Kamu pernah diapain sama pacar kamu ?". Sabrina Wajahnya berubah.
" Kalau Sabrina gak jawab, nanti ibu gak bs ngasih obat yang pas ".
Ibunya merangsek sambil memaki.
Gw tarik ibunya menjauh
Sambil berbisik
" Saya masih harus menggali informasi, tolong ibu sabar dan mohon kerja samanya ".
Gw lihat bibir siibu sudah bergetar.
Gw dekati kembali Sabrina yang masih dalam posisi tidur terlentang.
" Kamu sering ketemu pacar kamu ?" Dia mengangguk.
" Kan ayah dagang ibu bantu ayah,kakak juga sekolah pulangnya malem, kadang temen2 pada maen dirumah," .
Jawab Sabrina.
" Temen yang kerumah kamu cowok apa cewek ?"
" Cowok ?"
" Berapa orang biasanya yang dateng ?"
" 4 orang ".
" Semua pernah ngapain kamu ?".
Dia diam...
" Gak ngapa²in bu, kita cuma becanda mereka cuma kasih lihat K$$$$ terus kasih liat sambil tanyA siapa yang paling gede,
terus mereka juga becandapengen lihat tete aku dan katanya pengen nenen, aku kasih liat trs mereka nyobain nenen ".
Gw menghela nafas.
" Terus ".
" Terus mereka bilang pengen nenen sambil pegang² ke sini,".katanya sambil menunjuk arah kemaluannya.
" Terus kamu izinkan ?" Dia mengangguk.
" Pertamany Priyo cuma gesek2 jari, sambil nenen aku juga gak ngerti, tau2 jarinya masuk aja, gak lama ###### dia masuk pelan², pas nempel aku teriak karena sakit terus keluar darah menstruasi ".
Gw tepuk jidat... ya Allah mana nih sex education dan belajar alat reproduksi.
" Keliatannya sering masukin ya, atau bagaimana?"
" Tiap pulang sekolah kami jadi nonton film begituan, terus kami ikut²an, karena udah gak sakit kalau dimasukin".
Tiba² gw jadi geregetan, ini anak tolol apa botol.
" Sudah berapa lama begituan?"
Gw liat ibunya menangis sesenggukan.
" Sejak tahun baru 2026".
" Temen cowok kamu juga ikutan masukin".
Dia mengangguk.
" Gantian ?" Dia mengangguk lagi.
" Tapi sekarang si A, si O sudah punya pacar, jadi gak lagi ".
" Tinggal 2 ?".
" Priyo masih, si N minggu lalu mati ketabrak ".
Jawabnya sambil menarik2 ujung sarung bantal.
" Kamu tau kenapa kamu demam tinggi ?"
Dia menggeleng.
" Kamu hamil dan keguguran tapi jadinya gak keluar karena di sumpel celana dalam".
" Hamil ? Kan aku belum nikah bu ?"
Gw bener2 spechless ,dunia tak lagi baik baik.
Kadang gw juga bingung, memperkenalkan sex diusia dini dianggap tabu, ngasih pelajaran alat reproduksi malah penasaran.
Aissh mumet gw, pengen menggali informasi tentang Priyo itu, tapi buat apa coba.
Sabrina sendiri bukan warga sekitar gw dia tinggal di daerah dadap, ketempat gw dapet info dari nanya sana sini.
Balik ke pasien gw ambil tampon dalam vaginanya, ada bau menyengat dan nanah yang masih merembes.
Gw ambil formulir surat rujukan ke RS,
Dan gw tulis urgent.
krn gw takut nih bocah rahimnya infeksi. Atau tertular penyakit kelamin, semoga aja kekhawatiran gw cuma sepintas lalu
Maaf ya sayang kamu harus ke dokter special kandungan karena rahimmu tidak sedang baik baik saja
27 Juni jam 12.05.
Pasien gw rujuk ke RS.Cengkareng
tapi gw curiga nih si ibu paling si bocah di bawa ke kampungnya.
NOTE
Kalau gw tulis cerita dikatain gak masuk akal, halu, mosok iya, ngarang dll.
Gw gak cerita, nurani gw selalu mengusik, nasehat alm Pipiet Senja ,alm Mohammad Akbar selalu berpesan " menulislah apa yang kamu alami, menulislah seperti kamu menyampaikan sesuatu".
Mungkin bagi sebagian orang apa yang gw tulis diluar nalar, apa yang gw alami adalah kejanggalan.
Ketika pasien gw tangani, gw tetap menjaga privasi, baik nama, alamat dsb agar pasien tersebut tidak menjadi viral.
Karena gw punya sumpah dibawah Alquran untuk tetap menjaga privasinya.
Jika anda membaca tulisan gw yang rada gak masuk akal dikarenakan level hidupmu, mohon skip dan gak perlu berkomentar apapun, karena gw tidak butuh cacian kalian.
Sumber facebook : Lily Lee Andrea
